10.03.2012

Kakek A. Tedjo Hartono

"Apa yang kita pungut dari kehidupan ini adalah apa yang kita tanam didalamnya"


   Setiap kali aku kesana, begitu banyak petuah-petuah menyambutku. Jumlahnya ratusan, ribuan mungkin. Tergantung-gantung di tembok kamar maupun di daun pintu kamar, hingga sambutan-sambutan itu akan lama-kelamaan membuatmu tertarik untuk mulai membacanya satu persatu-persatu. Petuah-petuah tersebut ditulis diatas selembar karton bekas kardus mie instant, adapula yang ditorehkan diatas kertas klipping. Bau ruangan di salah satu kamar di rumah itulah yang paling kentara disana, kau akan berpikir untuk tidak akan membayangkan bau benda macam apa yang paling menyengat disana karena apa yang tergantung-gantung ditembok maupun langit-langit terlalu menarik untukmu untuk membayangkan bau apa itu.




   Di awal kau memasuki kamar itu, kau akan bertemu dengan mural yang isinya juga tak lain adalah wejangan kehidupan bertuliskan "Selamat datang Realitas!" lengkap dengan topeng manusia disebelahnya yang seolah-olah topeng itu yang berkata demikian. Sambutan demikian dipasang ditempat paling depan, sehingga akan membuatmu berpikir filsuf macam apa yang tinggal di goa macam ini?



  Akupun memasuki ruangan itu, sebuah kamar yang tak besar namun juga cukup leluasa untuk seseorang tinggal disana dan menikmati kehidupan didalamnya, mungkin 3 x 8 besarnya, dibagi dua satu ruangan 3 x 3 yang digunakan sebagai tempat istirahat dirinya dan koleksinya dan sisanya dulu digunakan untuk merawat sang istri yang telah enam belas tahun menderita diabetes. Kau akan menjumpai banyak sekali pernak-pernik yang digantung disana, entah sebagai pajangan atau sebagai pengingat bahwa sesorang pernah melalui kenangan-kenangan istimewa pada suatu waktu dan tempat yang istimewa. Tak jarang kau akan menjumpai banyak barang yang (mungkin) tak pernah kau jumpai pada masamu, karena barang-barang tersebut merupakan koleksi pribadi yang ditemukan dan dibeli di pasar loak karena nilai kenangan yang terkandung didalamnya terlalu indah untuk diacuhkan olehnya. 


  Ah, begitu senang aku berada didalamnya. Karena ketika aku duduk disana, menyapa beliau, seakan-akan aku terbawa kedalam dunianya di masa lalu. Dimana perjuangan Indonesia sekaligus perjuangan bertahan hidup masih menjadi momen yang paling menggoncangkan dunianya. Ya, disini kamu akan tahu rasanya duduk didalam kenangan - kenangan yang semakin kalah dimakan waktu - kenangan yang semakin tertinggal oleh perubahan zaman. Duduk didalam kenangan dan dikelilingi memori, memori yang membuatmu ingin selalu berada didalamnya dan tak ingin lekas beranjak disana sehingga mengetahui bahwa dirimu ada didalam realitas masa kini.



  Masih dalam kesedihannya yang mendalam sepeninggal kepergian isterinya tercinta, ia membenamkan dirinya dalam memori - memori dimana ia masihlah muda - masihlah memiliki banyak cinta untuk dibagikan - dan masih berjaya pada masanya. Kakekku, ayah dari almarhum ayahku. Delapan puluh tujuh tahun menapaki hidup, memberikan penghidupan bagi anak-anaknya.



Ooo, betapa kemudian dirimu tergerus waktu. Hanya menjadi butiran-butiran kenangan yang tersisa padamu, dan kau bagikan untuk anak-cucumu, agar mampulah kami berjuang layaknya dirimu, menggerus waktu bukannya tergerus zaman.



Ah, si filsuf tua masih mampu mengajar rupanya. Mengajar bagaimana hidup itu harus menderita tanpa mengeluh, mengajar menahan kebencian tanpa dendam, mengajar mencintai musuh, dan mengajar bersahabat tanpa kehilangan diri sendiri..




Tuhan tidak pernah turun dari langit dan berkata,

"Aku izinkan kamu sukses sekarang".

2 comments:

  1. apik ki, kakekmu brandt? tinggal neng ndi???
    iseh ono to?

    ReplyDelete
  2. iseh bung, kapan2 ke solo tak ajak main kerumah beliau. dijamin cepet wisuda.huahahahhaa

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...