5.09.2014

"Hidup yang tidak dipikirkan, adalah hidup yang tak pantas dijalani" begitu kata Socrates

Catatan ini ingin mengurai kembali

betapa sebuah perjuangan tidaklah selalu berakhir dengan kebahagiaan,

terkadang kebahagiaan itu justeru baru terasa ketika sedang bersedih.


Siang tadi di sebuah ruang di kampus ISI Yogyakarta, ruangan itu tidaklah besar namun cukup nyaman untuk bercengkerama dan berbagi cerita. Ruang itu berada di sebuah sudut, ia diberi nama Ruang Jurnal dan para pencengkrama di dalamnya diberi sebutan SJ - bukan Serikat Jesus seperti tittle yang dimiliki pemuka agama Katolik melainkan Serikat Jurnal, saya bercengkrama barang sebentar bersama dengan kawan-kawan di sana. Siang itu sebetulnya adalah siang yang teramat terik di kota yang penduduknya selalu sejuk ini, Yogyakarta. Ruang Jurnal itu berisikan tiga orang teman yang sedang mendiskusikan hal yang sebetulnya menurut saya amatlah remeh-temeh; Bung Koskow, Mas Rain, dan Habibi. 

"Departemen apa yang akan kau masuki setelah lulus nanti?",

ujar kawan itu yang sekaligus dosen saya, Bung Koskow. Namun menjadi sangatlah mengena karena merupakan semacam refleksi dari apa-apa yang telah terjadi sebelumnya, yakni sidang kelulusan.

Sebelumnya pada pagi hari saya menjalankan sidang kelulusan untuk syarat kesarjanaan program studi Desain Komunikasi Visual, ISI Yogyakarta. Bila dikatakan menegangkan sebetulnya tidak, toh di dalam ruang sidang saya jalani dengan cengengesan dan berjalan lancar-lancar saja hingga saya dinyatakan lulus. Nah, sekarang apa yang membuat saya mengharu biru sebetulnya bukan sidang kelulusannya, namun perjumpaan-perjumpaan yang bakalan jarang saya temui lagi lantaran status kelulusan saya.

Memang, untuk mendapatkan kesempatan sidang tidaklah mudah. Kesempatan itu didapatkan melalui banyak perjuangan yang tak jarang berurai air mata, di dalam kesempatan itulah saya menemukan sahabat-sahabat yang tak putus-putusnya memberi semangat dan dukungan. Kawan yang semenjak tahun 2008 silam kita dipertemukan, dan di saat kesempatan ini diperjuangkan pulalah semakin jelas terlihat. Mana kawan yang pergi dan mana kawan yang tetap tinggal kala masalah merintang.

Kembali ke pertanyaan Bung Koskow saat itu, "Departemen apa? Agama? Sosial? Ekonomi? Atau apa?". Saat itulah refleksi terjadi, dalam diam saya berusaha mereka-reka kembali apa yang menjadi tujuan saya setelah lulus nanti? Apa yang pernah saya reka dahulu?

Namun ada baiknya pula sebelum saya memaparkan refleksi saya siang tadi mari saya kilas balikkan tentang apa-apa yang sudah saya pamerkan dengan persiapan selama satu minggu kemarin. Tugas Akhir saya pagi tadi berjudul Perancangan Ulang Buku Esai Visual Renungan Kehidupan, "Catatan Milik Munyuk Lansia Bengong" Karya A.W. Tedjo.



Lalu apa yang menarik? Yang menarik adalah buku yang saya rancang adalah sebuah buku perenungan kehidupan, betapa saya harus merenung kembali malahan lebih dalam lagi dengan pertanyaan Bung Koskow tersebut. Alangkah tercengangnya saya menyadari bahwa sidang sesungguhnya malahan terjadi di ruang itu. Pertanyaan-pertanyaan mengenai masa depan, selalu tidak mudah bagi saya untuk menjawabnya. Apalagi pertanyaan tersebut dilayangkan setelah saya melewati sidang kelulusan (yang saya kira bakalan lebih menguras tenaga dan pikiran) dan sedang merasa bahagia sekali atas pencapaian saya selama kurang lebih lima tahun ini.

Ah, pikiran saya pun melayang-melayang menuju tempat di mana saya bermula. Seorang pria berumur sembilan belas tahun, dengan berbekal pengetahuan minim mengenai dunia seni rupa memberanikan diri me-nyemplung-kan diri di sebuah kampus Seni di Selatan Yogyakarta. Saya memang tidak pernah berpikiran terlalu jauh ke depan, jika ada orang sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan tiga tahun - atau bahkan tiga puluh tahun ke depan akan berbuat apa. Maka saya bukan orang yang seperti itu, pandangan saya hanya saya cukupkan pada tiga hari ke depan. Apa-apa yang akan saya lakukan besok, besoknya besok, dan besok-besoknya besok sahaja.

Maka pikiran saya yang melayang-layang itu pun entah kenapa bagaikan layang-layang putus kalah adu gesek dengan gelasan. Putus. Kosong sahaja.

Kemudian pikiran saya pun berusaha membela diri-menyambung kembali tali senar kenur yang putus tadi, "apa salahnya jika hanya punya agenda tiga hari ke depan? Apa kau bisa mengagendakan lima tahun lagi kau akan jadi apa? Menjadi tua di mana? Hingga dikubur di mana bila mati? Lalu apa gunanya Tuhan yang kau sembah bila kau sudah mampu mengagendakan semuanya?"

Maka Mas Rain yang berada di ruangan itu pun menjawab jua dengan membagi pengalamannya, "Saya tidak bisa menyebut departemen apa, dahulu setelah saya lulus kuliah saya hanya berpikir bahwa saya akan mendedikasikan diri untuk seni rupa. Setidaknya dengan membuat orang tua tidak khawatir mengenai keadaan kita, itu sudah cukup membahagiakannya. Maka saya tidak pernah menargetkan apa-apa, saya hanya meng-agendakan. Agenda saya adalah Cari Makan".

Ya, Cari Makan! Saya rasa itu yang paling realistis dari semua alasan saya jua. Saya hanya membiarkan masa depan yang kabur saja, membiarkan misterinya terkuak sendiri oleh waktu.

"Hidup yang tidak dipikirkan, adalah hidup yang tak pantas dijalani" begitu kata Socrates.

Sebagai penutup, saya lampirkan beberapa foto-foto tadi siang di ruang Galeri Soetopo tempat saya berpameran Tugas Akhir.









Berikut dibawah ini adalah teman-teman yang membantu bergerak membangun panggung display ini, dan beberapa teman yang sudah pulang terlebih dahulu namun jasanya tidak kurang banyak daripada yang berada di dalam gambar, seperti ; Ari, Galuh, Amirul, Aan, dan Nanda :



Mari merayakan agenda tiga hari ke depan!


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...